Jumat, 26 Desember 2014

Manfaat Jahe Merah Untuk Kesehatan



Jahe merah (Zingiber officinale Linn. Var. Rubrum) adalah salah satu obat dan rempah-rempah komoditas di Indonesia. Penggunaan jahe merah sangat cocok untuk berbagai olahan karena selain memiliki rasa yang khas dan aroma dan lezat, juga memiliki fungsi sebagai obat. Dalam industri farmasi, jahe merah banyak digunakan untuk obat (oral) dan topikal.
Jahe merah diklasifikasikan semak dengan umbi batang dan akar. Batang adalah batang semu, yang terdiri dari daun pelepah pelepah-berpadu. Tinggi tanaman antara 40 sampai 60 cm, bahkan bisa mencapai 1 meter. Tumbuh umbi batang dan akar menyebar horizontal di tanah. Umbi tumbuh batang memanjang, cabang tumbuh secara. Tunas dikenal sebagai rimpang, umbi bermata bentuk, yang memiliki aroma yang khas dan rasa pedas. Warna merah rimpang, ukuran kecil dan serat kasar. Di sekitarnya terdapat akar serabut yang lebih banyak di bagian bawah rimpang.
Jahe merah dibudidayakan di tanah harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus) dan berdrainase baik untuk mendapatkan rimpang jahe lemak dan berdaging. Pengembangan jahe merah umumnya dilakukan pada tanah latosol, aluvial, podsolik merah-kuning cukup subur dan andosol mengandung bahan organik yang relatif tinggi. Tanaman jahe merah tidak bisa tumbuh baik di tanah yang memiliki banyak air berdiri (drainase yang buruk), lahan basah, tanah liat berat, dan tanah didominasi oleh pasir kasar atau konten kerikil.
Klasifikasi tanaman jahe merah adalah sebagai berikut:
Divisi: Spermatophyta
Sub Divisi: Angiospermae
Kelas: Monocotyledoneae
Order: Zingiberales
Keluarga: Zingiberacea
Genus: Zingiber
Spesies: Zingiber officinale Linn. var rubrum
Sentra produksi jahe merah di Indonesia, terletak di Sumatera, Bengkulu, dan Lampung. Jahe merah selalu dipanen setelah berumur 8-9 bulan. Jahe mengandung minyak atsiri tinggi dibandingkan dengan jahe yang paling besar dan kecil sama dengan 4% sehingga cocok untuk tumbuh-tumbuhan. Penanaman petani jahe merah digunakan untuk obat, minyak esensial dan oleoresin. Di Halmahera Barat, satu-satunya penggunaan jahe merah untuk obat dan memasak tradisional rempah-rempah.
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para petani untuk mendapatkan produksi yang optimal dari jahe merah di samping pembibitan yang baik adalah melalui cara yang benar penanaman dan pemeliharaan yang meliputi penanaman, penyiangan, pemberian sampah (mulsa), dan pemupukan. Pengendalian hama dan penyakit yang dapat mengganggu produksi jahe merah juga diperlukan, karena salah satu masalah adalah pengembangan jahe merah layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) yang menyebabkan penurunan produksi dan kualitas. Sampai saat ini belum ditemukan solusi efektif untuk mengatasi penyakit ini. Partai Lembaga Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) terus melakukan penelitian dan pengembangan sehubungan dengan pemecahan masalah budidaya jahe merah penyakit layu bakteri.
B. Red Ginger Produk dan Persyaratan Kualitas
Tanaman jahe merah bisa dijual sebagai jahe segar maupun dalam bentuk olahan seperti bubuk jahe, jahe kering, minyak esensial dan oleoresin. Jahe merah segar lebih dikonsumsi oleh pasar domestik untuk kepentingan kesehatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan Indonesia yang selalu menyukai mengkonsumsi herbal termasuk jahe merah.
Selain untuk memenuhi permintaan pasar domestik, jahe merah segar dan bentuk olahan lainnya dapat diekspor. Jahe merah dan jahe olahan produk merah harus memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan untuk menjadi lebih kompetitif di pasar. Secara umum, minyak esensial jahe merah mengandung 3,9%, kadar pati 44,99%, kadar abu 7,46%, dan kadar serat 43,65%. Berikut adalah beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar jahe merah dan jahe olahan produk merah dapat dipasarkan di dalam dan luar negeri.
1. Red Ginger Segar
Jahe merah adalah jahe segar yang baru dipanen merah dan belum mengalami perubahan bentuk. Red Ginger kualitas ekspor yang diinginkan segar rimpang jahe merah gemuk dengan berat minimal 200 gram. Tabel 2 menunjukkan standar kualitas jahe merah segar yang diinginkan oleh konsumen.
Tabel 2. Segar Standar Mutu Jahe Merah
Nomor Karakteristik Syarat Mutu
kulit merah jahe kesegaran Jahe merah tampak halus, mengkilap, dan tidak ada keriput
b Rimpang tumbuh No satu atau beberapa ujung rimpang tunas
c penampilan Sectional Ginger melintang ketika diiris palang merah segar di salah satu penampang rimpang jahe segar khas cerah merah
d segar rimpang jahe merah Rimpang dikatakan lengkap jika cabang-cabang rimpang jahe merah tidak ada yang rusak, dengan maksimal dua patah cross-sectional di dasar
e Serangga Bebas dari serangga
Sumber: Perpustakaan Agromedia, 2005
2. Jahe Merah Powder
Bubuk jahe merah adalah jahe merah sempurna kering (kadar air sekitar 8-10 persen). Jahe kering digiling halus dengan ukuran sekitar 50-60 mesh dan dikemas dalam wadah kering. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas bubuk jahe merah ukuran partikel, kadar air, dan kadar minyak esensial. Untuk menghasilkan bubuk jahe merah dengan kandungan minyak esensial di atas 1,5% harus dipilih dari bahan baku berusia 9 bulan di mana kandungan minyak esensial dalam keadaan optimal.
3. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah minyak atsiri yang terdiri dari campuran zat-zat volatil dengan komposisi dan titik didih yang berbeda. Sebagian besar minyak atsiri hasil destilasi (hidrodestilasi). Minyak atsiri yang disuling dari jahe merah sampai kuning berwarna tembus. Waktu Distillery berlangsung 10-15 jam sehingga minyak dapat sempurna suling. Tingkat minyak jahe mencapai 1,5 sampai 3 persen. Tabel 3 di bawah ini menunjukkan kualitas standar minyak jahe masih mengacu pada ketentuan Asosiasi Minyak Atsiri (EOA).
Tabel 3. Minyak Esensial Standar Mutu Jahe Merah
Tidak Persyaratan Spesifikasi
1 Warna kuning muda - kuning
2 Spesifik gravitasi 25/25 º C 0877-0882
3 Indeks Bias 1486-1492
4 Optical Bundar (-28 º) - (-45 º)
5 penyabunan Bilangan, maksimum 20
Sumber: Perpustakaan Agromedia, 2005
Minyak atsiri banyak digunakan dalam berbagai industri, seperti parfum, kosmetik, esensi, farmasi dan agen Bumbu. Ini Apakah saat ini sedang aktif dikembangkan bahkan penyakit menyembuhkan melalui Aromatheraphy, menggunakan minyak esensial yang berasal dari tanaman.
4. oleoresin
Oleoresin merupakan campuran resin dan minyak atsiri yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut organik seperti etanol, aseton, isopropanol atau heksana. Jahe merah mengandung resin yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai oleoresin. Kelebihan dari oleoresin lebih higienis dan memiliki kekuatan lebih jika dibandingkan dengan jahe merah segar. Penggunaan industri oleoresin lebih disukai karena baunya lebih tajam sehingga penggunaannya tidak memerlukan biaya yang cukup besar.
5. Kering Red Ginger
Kering jahe merah adalah jahe merah diawetkan dengan baik proses pengeringan menggunakan tenaga surya dan pengeringan buatan. Pengeringan adalah proses mengurangi kadar air sejauh terbaik (sekitar 8-10 persen), karena tingkat kelembaban jahe bisa aman dari polusi yang disebabkan oleh jamur dan penggunaan insektisida secara berlebihan. Kering jahe merah bisa dijual dalam bentuk tidak dikupas, atau setengah berkulit. Tabel 4 di bawah ini menunjukkan kualitas standar jahe merah mentah (kering jahe merah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar